Minggu, 05 Mei 2013

AL-GHAZALI


LATE POST. Semoga berguna



 AL-GHAZALI

A. BIOGRAFI AL-GHAZALI
Nama lengkap adalah abu hamid bin muhammad bin ahmad al-ghazali, mendapat gelar hujjatul-islam. Ia lahir tahun 1050 M di Tus, Iran. Ayah al ghazali adalah seorang tasawuf yang saleh. Ia meninggalm dunia ketika al ghazali beserta saudaranya masih kecil. Al ghazali pertama-tama belajar ilmu agama di kotaTus, kemudian meneruskan ke kota jurjan. Pada tahun 1090 M ia diangkat menjadiguru di sekolah Nidzamiah baghdad. Pekerjaan itu dilaksanakan dengan sangat berhasil. Selain itu ia juga memberikan bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan batiniah, ismailiyah, golongan filsafat, dan lain-lain.
Sementara itu ia ditimpa keragu-raguan tentang pekerjaannya sehingga ia menderita penyakit yang tidak bisa diobati. Pekerjaan itu kemudian ditinggalkannya di damsyik. Karena desakan para penguasa, yaitu Muhammad, saudara Barkijaruk, al ghazali mau kembali mengejar di sekolah Nidzamiyah di Naisabur. Tetapi pekerjaan ini hanya berlangsung dua tahun. Akhirnya kembali ke kota Tus. Disana kemudian ia mendirikan sekolah untuk para fukaha dan sebuah biara  untuk para mutashawifin. Di kota itu pula ia meninggal dunia pada tahun 1111 M dalam usia 54 tahun. 

B. PEMIKIRAN FILSAFAT AL-GHAZALI
Sering orang memahami filsafat al-ghazali dengan kacamata kuda bahwa al ghazali tabu dengan filsafat, bahkan menentang filsafat. Kajian ini harus dikaji lebih mendetail supaya mudah mematahkan al ghazali sebagai filsuf dan sufi juga fuqaha. Kerangka berfikiral ghazali perlu ditelusuri secara komprehensif. Karena berfilsafat itu menggunakan logika dengan kajian analisisnya maka apa yang dimaksud dengan akal dan bagaimana posisi akal. Menurut Yusuf Qardhawi yang mengutipnkitab Ma’arijul Al-Quds, “ketahuilah bahwa akal tidak akan mendapatkan petunjuk, kecuali dengan syara’, dan syara’ tidak akan jelas kecuali dengan akal. Akal bagaikan landasan, sedangkan syara’ sebagai bangunan”.  Begitu pula halnya, mengenaihubungan antara syariat dengan akidah dan hakekat.
Filsafat munurut Al-Ghazalidi bagi menjadi enam : “ilmu pasti, ilmu logika, ilmu ketuhanan, ilmu polotik dan ilmu akhlak”. Disamping itu, Al-Ghazali tidak menyerang semua cabang filsafat tersebut, kecuali filsafat ketuhanan(metafisika), dimana para filsuf sangat menggunaka peranan akal yang mengalahkan agama dan syariat. Menurt Juhata S Praja, hasil filsafat masih bersifat spekulatif, artinya hasil yang diperoleh dari penyelidikan filsafat baru dagaan-dugaan belaka, dan bukan kepastian.
Menurut Al-ghazali secara teoritis, akal dan syara’ tidak bertentangan secara hakiki, karena semuanya adalah cahaya petunjuk dari Allah SWT. Demikian juga ditinjau dari segi praktis, tidak ada hakekat agama yang bertentangan dengan hakekat ilmiyah. Al ghazali melihat bahwa satu sama lainnya mendukung dan membenarkan. Hal itu ter bukti dari ungkapan al ghazali. “akal adalah penentuan hukum yang tidak dijauhkan ataupun diganti. Akal adalah saksi syara’. Akal adalah saksi yang secara murni adil mengatakan bahwa dunia adalah kampung tipuan bukan kampung bahagia tempat jualbeli, bukan tempat gedung apartmen. Dunia adalah transaksi yang modalnya adalah ketaatan. Ketaatan itu ada dua macam : amal dan ilmu. Ilmu adalah ketaatan terbaik dan beruntung. Ilmu termasuk salah stau amal, yaitu amalan hati yang merupakan anggota tubuh manusia yang mulia. Ilmu juga merupakan upaya akal yang merupakan beda termulia, karena akal adalah sendi agama dan memiliki amanat.”
Menurut al ghazali, akal merupakan instrument untuk memahami dalil-dalil syariat. Akan tetapi, akal atau berfilsafat yang tahu akan batasannya dan tidak menghalangi dirinya untuk mendapatkan  nur yang lebih besar, yaitu Nur Wahyu Ilahi. Dengan kata lain, akal atau berfilsafat membenarkan hukum secara pasti, atau menurt Juhaya S. Praja, berfilsafat adalah berfikir secara mendalam tentang tentang sesuatu mengetahui apa, bagaimana dan nilai-nilai dari sesuatu tersebut.
1. MANUSIA
Manusia terdiri dari dua unsur : jasad dan roh atau jiwa. Dalam hal ini, al ghazali menyatakan ada persamaan manusia dengan tuhan berdasarkan suatu hadits yang artinya “sesungguhnya Allah menciptakan adam sesuai dengan rupa-Nya”. Persamaan itu meliputi tiga hal : dzat, sifat, dan fi’il (perbuatan). Dari segi dzat, maka dzat roh adalah berdiri sendiri. Demikian pula hal nya dengan dzat Allah. Berdasarkan penguraian diatas, manusia adalah microcosmos yang menyerupai macrocosmos. Jika persamaan ini tidak ada, manusia tidak mungkin mengetahui alam semesta. Jika yang ada dalam diri manusia merupakan tangga untuk mengenal allah. Seperti sabda nabi: “barang siapa mengenal diri (jiwa), maka ia mengenal Tuhannya”. Disini al ghazali menghubungkan islam sebagai agama fitrah yang setiap orang dilahirkan sesuai dengannya dan hanya orang tuanyalah yang menyelewengkannya dari agama tersebut. Hati seorang bayi yang bersih adalah mutiara yang mahal, bersih dari lukisan dan bentuk, ia menerima lukisan dari berbagai pengaruh luar.
Manusia terdiri dari dua unsur : unsur ilahi dan unsur hewani, dan karenanya ia berada antaraalam akherat dan alam hewan, jiwanya terasing dari tubuh yang gelap pekat ini, rindu selalu ketempat yang hakiki.
2. METAFISIKA
a. Dalil Wujud Tuhan
Al-ghazali memberikan reaksi keras terhadap neo-platonisme islam, menurtnhya banyak sekali terdapat kesalahan filsuf, karena mereka tidak teliti seperti halnya dalam lapangan logika dan matematika. Untuk itu, al ghazal mengecap secara langsung dua tokoh neo-platonisme muslim(Al-farabi dan Ibnu Sina), dan secara tidak langsung kepada Aristoteles. Menurt al ghazali sebagaimana dikemukakan dalam buku Tahafut al- Falasifah, para pemikir bebas tersebut ingin menanggalkan keyakinan-keyakinan islam dan nengabaikan dasar-dasar pemujaan spiritual dengan menganggapnya sebagai hal yang tidak berguna bagi pencapaian intelektual mereka.
Sebagaimana halnya ulama kalam, al ghazali amengemukakan sejumlah dalil tentang wujud Allah. Dalil tersebut dapat di simpulkan pada dalil agama dan dalil akal. Yang dimaksud dengan dalil agama adalah yang berdasarkan pemahaman terhadap kandungan ayat-ayat al-qur’an. Tentang hal ini al ghazali mengungkapkan: “jelaskan bagi orang-orang yang berakal, apabila ia sedikit saja berfikir tentang kandungan ayat-ayat ini lalu ia alihkan pandangannya terhadap keajaiban makhluk Allah dibumi dan di langit serta keindahan penciptaan hewan dan tumbuhan. Bahwaperkara yang mengaturnya, pembuat yangmengendalikan”. Sebenarnya dalam fitrah manusia dan dalil-dalil al-quran sudah cukup untuk membuktikan adanya Allah.
b. Dzat dan sifat
  Menurut al ghazali, ilmu yang yang sangta tinggi martabatnya ialah mengenal Allah (ma’rifatti ‘llah) dengan mengetahui dzat, sifat dan perbuatan. Oleh karena Dzat Allah tidak dapat terjangkau oleh pengetahuan manusia, maka mereka tidak diwajibkan mengetahuinya. Dalam hal ini, mereka cukup mengetahui sifat-sifat dan perbuatan-Nya saja. Nabi bersabda : :berpikirlah tentang makhluk ciptaan allah dan janganlah kamu berfikirtentang dzat-Nya, sehingga kamu tidak binasa’.
Allah adalah wujud yang maha sempurna yang tidak ada seba bagi wujudnya. Ia adalah sebab bagi wujud yang selain-Nya, wujud-Nya dapat diketahui dengan akal pikiran, karena ia adalah sebab, tidak mungkin adanyasesuatu di alam ini tanpa sebab. Rentetan semua sebab itu tidak mungkin berlalu terus menerus tanpa akhir. Oleh karena itu, rentetan sebab harus berakhir pada sebab pertama yakni kepada Allah.
c. af’alu ‘illah
yang dimaksud dengan af’alu ‘illah adalah perbuatan Allah yang berwujud penciptaan segala sesuatu di alam ini. Karena itu Allah disebut Al-khaliq.
Akan tetapi, apakah perbuatan Allah itu hanya terbatas pada penciptaan alam dan segala isinya, ataupun juga menjangkauoerbuatan dan ikhtiar manusia, serta kewajiban keagamaanya. Al ghazali menyimpulkan : segala sesuatu yang baru adalah ciptaan Allah, tidak ada penciptaan selain-Nya. Dalam hal ini, termasuk semua makhluk pada perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan seperti firman-Nya : Allah adalah pencipta segala sesuatu(al qur’an, 13:18).
Puncak pemikiran filsafat al ghazali adalah tentang prinsip keesaan allah. Berikut ini adalah surat-surat al-baqarah dan An-Nur yang mengilhami al ghazali, tempat ia menerapkan teorinya mengenai tingkat “keterangan” dan tingkat “kegelapan”. Ayat-ayat al quran itu memperlihatkan sebuah pertanyaan yang paling penting tentang keesaan allah yang mutlak dan menerangkan sifat-sifat-Nya yang mutlak juga.
Firman Tuhan :
“ allah tidak ada tuhan melainkan dia, yanghidup kekal lagi menerus. Mengurus (makhluknya, tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Kepunyaa-Nya yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at disisi allah tanpa izin dan apa-apa yang di belakang mereka. Sedang mereka tidak mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan dibelakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu allah melaikan apa yang allah kehendaki. Kursi allah memelihara keduanya dan Allah Mahatinggilagi Mahabesar.
“Allah maha(pemberi cahaya (kepada) langit danbumi. Perumpamaan cahaya allah adalah sebagai sebuah relung dindingtempat terdapat sebuah pelita. Pelita tersebut berada di dalam sebuah bejana kaca dan bejana ini bagaikan sebuah bintang yang gemerlapan . pelita ini menyala dari sebuah pohon yang diberkati yaitu sebuah pohon zaitun yang tidak terdapat ditimur maupun dibarat, sedangkan minyaknya saja hampit menyala dengan sendirinya walaupun api tidak menyentuhnya. Cahaya diatas cahaya, allah membimbing siapa yang dikendaki-Nya menuju cahaya-Nya, sedang allah berbicara kepada manusia dengan perumpamaan karena allah maha mengetahui setiap sesuatu”. (QS, 24: 35-40)

KARYA-KARYA AL-GHAZALI
Al ghazali adalah seorang ulama dan pemikirdalam dunia islam yang sangat produktif dalam menulis. Dalam masa hidupnya, baik ketika menjadi pembesar negara di muaskar maupun ketika sebagai professor di baghdad, baik sewaktu skeptic di naisabue maupun setelah berada dalam perjalanannya mencari kebenaran dari apa yang di milikinya, dan sampai akhir hayatnya, al ghzali terus berusaha menulis dan mengarang.
Syekh Abdul Qadir Alaydrus Ba’lawi dalam ta’rif al-ihya fifadha’il al-ihya mengatakan bahwa ulama besar quthbu al-yaman, ismail Bin Muhammad Al-Hadrami mengatakan dalam suatu jawaban tentang nilai karangan-karangan al ghazali : “ada tiga Muhammad dalam islam, muhammad bin abdullah, penghulu segala nabi, muhammad bi idris asy-syafi’i, penghulu segala imam, muhammad al ghazali, penghulu segala pengarang”. Jumlah kitab yang di tulis al ghazali sampai sekarang belumdi sepakati secara defini oleh para penulis sejarahnya. Menurut ahnad Daudy, penelitian paling akhir tentang jumlah buku yang dikarang al ghazali adalah yang dilakukan oleh abdurahman al-badawi yang hasinya dikumpulkan dalam satu buku yang berjudul Muallafat Al-Ghazali.
Abdurahman mengklasifikasikan kitab-kitab yang ada hubungannya dengan karya Al-ghazali dalam tiga kelompok :
1. kelompok kitab yang dapat dipastikan sebagai karya al ghazali yang terdiri atas 75buah kitab.
2. kelompok kitab yang diragukan sebagai karyanya yang asli yang terdiri atas 22 buah kitab.
3. kelompok kitab yangdapatdipastikan bukan karyanya, terdiri 31 buah kitab.
Kitab-kitab yang ditulis al ghazali tersebut meliputi berbagai bidang ilmu yang popular pada zamannya, diantaranya tentang tafsir al-qur’an, ilmu kalam, ushul fiqih, tasawuf, mantiq, falsafah dan lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar